Ibu & Anak

Eksim pada Bayi: Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

eksim pada bayi
Daftar isi
  1. Penyebab Eksim pada Bayi
  2. 1. Riwayat Eksim dalam Keluarga
  3. 2. Perubahan Gen yang Memengaruhi Pelindung Kulit
  4. 3. Lapisan Pelindung Kulit Tidak Bekerja Optimal
  5. 4. Alergi Makanan Utama sebagai Pemicu Eksim
  6. 5. Iritasi dari Sabun, Sampo, atau Deterjen
  7. 6. Gesekan dari Pakaian yang Kasar
  8. 7. Cuaca Panas dan Keringat Berlebih
  9. 8. Alergen dari Lingkungan Sekitar
  10. 9. Infeksi pada Kulit yang Mengalami Eksim
  11. 10. Suhu Terlalu Dingin atau Terlalu Panas
  12. Gejala Eksim pada Bayi
  13. Cara Mengatasi Eksim pada Bayi
  14. 1. Mandi dengan Air Hangat dan Teknik Soak and Seal
  15. 2. Gunakan Pelembap Secara Rutin
  16. 3. Penggunaan Salep Eksim pada Bayi dari Dokter
  17. 4. Krim Non-steroid (Alternatif untuk Jangka Panjang)
  18. 5. Kontrol Garukan dan Cegah Infeksi
  19. 6. Hindari Pakaian dan Iritan yang Memicu
  20. 7. Jaga Suhu Lingkungan Agar Tetap Sejuk
  21. Kapan Sebaiknya Membawa Bayi ke Dokter?

Eksim pada bayi merupakan kondisi kulit yang ditandai dengan kulit kering, kemerahan, dan terasa gatal. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai dermatitis atopik.

Rasa gatal akibat eksim bisa cukup mengganggu. Bayi mungkin menjadi lebih rewel, sering mengusap atau menggaruk kulit, bahkan sulit tidur karena merasa tidak nyaman. Ruam eksim juga dapat membuat kulit terlihat kering, kasar, bersisik, atau menebal.

Pada bayi, eksim sering muncul di area pipi dan bagian tubuh yang memiliki lipatan, seperti siku dan lutut. Namun, lokasi dan bentuk ruam dapat berbeda pada setiap bayi.

Lalu, apakah eksim pada bayi bisa sembuh? Eksim merupakan kondisi yang dapat kambuh dari waktu ke waktu, tetapi pada banyak anak, gejalanya dapat membaik seiring bertambahnya usia. Karena itu, perawatan kulit yang dilakukan secara rutin dan tepat penting untuk membantu menjaga gejala tetap terkendali serta mengurangi kekambuhan.

Baca Juga: Hernia pada Anak: Ciri-Ciri, Penyebab & Pengobatannya

Penyebab Eksim pada Bayi

eksim pada bayi
Gambar Eksim pada Bayi | Sumber: Medical News Today

Memahami penyebab eksim pada bayi dapat membantu orang tua mengenali faktor yang mungkin memicu atau memperburuk kondisi kulit Si Kecil. Eksim biasanya tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan dapat terjadi karena kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang memengaruhi kondisi kulit.

Berikut beberapa penyebab dan faktor yang berkaitan dengan munculnya eksim pada bayi:

1. Riwayat Eksim dalam Keluarga

Faktor keturunan dapat meningkatkan risiko bayi mengalami eksim. Risiko ini juga lebih tinggi jika dalam keluarga terdapat riwayat penyakit atopik, seperti eksim, asma, atau rinitis alergi.

Jika salah satu orang tua memiliki kondisi tersebut, bayi memiliki kemungkinan lebih besar mengalami eksim dibandingkan bayi tanpa riwayat keluarga serupa.

2. Perubahan Gen yang Memengaruhi Pelindung Kulit

Eksim juga berkaitan dengan perubahan pada gen yang berperan dalam pembentukan filaggrin, yaitu protein yang membantu menjaga lapisan pelindung kulit (skin barrier).

Jika fungsi filaggrin terganggu, kulit dapat lebih mudah kehilangan kelembapan. Akibatnya, kulit bayi menjadi lebih kering dan lebih mudah terpengaruh oleh berbagai iritan maupun alergen dari lingkungan.

3. Lapisan Pelindung Kulit Tidak Bekerja Optimal

Pada bayi dengan eksim, lapisan pelindung kulit (skin barrier) dapat bekerja kurang optimal. Kondisi ini membuat kulit lebih mudah kehilangan air sehingga menjadi kering dan sensitif.

Ketika lapisan pelindung kulit melemah, berbagai zat dari luar, termasuk iritan, alergen, dan mikroorganisme, dapat lebih mudah memengaruhi kulit. Kondisi tersebut kemudian dapat memicu peradangan dan membuat gejala eksim semakin mudah muncul atau kambuh.

4. Alergi Makanan Utama sebagai Pemicu Eksim

Alergi terhadap makanan tertentu sering kali menjadi pemicu utama atau memperburuk eksim, terutama pada bayi yang lebih muda. Makanan seperti susu sapi, telur, kacang-kacangan, atau gandum adalah alergen yang umum.

Hasil studi pada sebuah meta-analisis terbaru menunjukkan hubungan dosis-respons antara keparahan eksim dan alergi makanan, di mana anak dengan eksim sedang hingga parah memiliki prevalensi alergi makanan antara 33% hingga 52% tergantung tingkat keparahan.

5. Iritasi dari Sabun, Sampo, atau Deterjen

Kulit bayi masih sangat sensitif sehingga lebih mudah mengalami iritasi. Penggunaan sabun, sampo, atau deterjen yang mengandung pewangi, pewarna, atau bahan yang terlalu keras dapat mengurangi minyak alami pada kulit dan membuatnya semakin kering.

Pada bayi yang memiliki eksim, kondisi tersebut dapat memicu iritasi dan peradangan sehingga kemerahan atau rasa gatal menjadi lebih parah.

6. Gesekan dari Pakaian yang Kasar

Pakaian yang terasa kasar dapat mengiritasi kulit bayi, terutama jika kulitnya memang sedang sensitif atau mengalami eksim. Bahan seperti wol atau beberapa jenis kain sintetis dapat menimbulkan gesekan yang membuat kulit menjadi merah dan terasa semakin gatal.

Gesekan biasanya lebih mudah menyebabkan iritasi pada area yang sering terlipat, seperti leher, siku, dan lutut.

7. Cuaca Panas dan Keringat Berlebih

Bayi yang terlalu kepanasan dapat lebih banyak berkeringat. Kondisi ini terkadang dianggap sebagai biang keringat pada bayi, padahal keringat dan panas juga dapat memperburuk eksim.

Keringat yang menempel atau terperangkap di lipatan kulit, seperti leher, siku, dan lutut, dapat membuat kulit terasa semakin gatal dan memicu kambuhnya ruam eksim.

8. Alergen dari Lingkungan Sekitar

Beberapa zat yang ada di lingkungan dapat menjadi pemicu pada bayi dengan kulit sensitif. Contohnya adalah debu, tungau debu, serbuk sari, bulu hewan peliharaan, dan asap rokok.

Paparan terhadap pemicu tersebut dapat membuat kulit mengalami iritasi atau memicu reaksi yang menyebabkan eksim kembali muncul atau semakin parah.

9. Infeksi pada Kulit yang Mengalami Eksim

Kulit yang terus digaruk dapat mengalami lecet, luka, atau kerusakan. Kondisi ini membuat kulit lebih mudah dimasuki bakteri atau virus sehingga dapat terjadi infeksi sekunder.

Infeksi bakteri, misalnya oleh Staphylococcus aureus, dapat membuat peradangan menjadi lebih berat. Bila kulit bayi mulai menunjukkan tanda infeksi, diperlukan pemeriksaan dan penanganan dari dokter.

10. Suhu Terlalu Dingin atau Terlalu Panas

Perubahan suhu yang ekstrem juga dapat memengaruhi kondisi kulit bayi. Udara yang terlalu dingin dan kering dapat membuat kulit kehilangan lebih banyak kelembapan sehingga menjadi semakin kering dan gatal.

Sebaliknya, lingkungan yang terlalu panas dapat membuat bayi lebih mudah berkeringat. Keringat berlebih ini dapat mengiritasi kulit dan memperburuk gejala eksim.

Gejala Eksim pada Bayi

Mengenali eksim pada bayi dan gejalanya sangat penting agar Anda dapat segera memberikan penanganan.

Gejala utama eksim adalah rasa gatal yang hebat dan kulit yang sangat kering, yang sering kali membuat bayi rewel dan mengganggu tidurnya.

Gejala fisik eksim meliputi:

  • Gatal Intens: Rasa gatal yang hebat adalah ciri khas, membuat bayi sering mengusap atau menggaruk area yang sakit, terutama saat malam hari.
  • Ruam Merah: Munculnya bercak merah dan peradangan, terutama di pipi, kulit kepala, dan area lipatan (siku dan lutut).
  • Kulit Kering dan Bersisik: Kulit terasa kasar, mengelupas, atau bahkan seperti berkerak. Kondisi ini jelas berbeda dengan biang keringat pada bayi yang biasanya berupa bintik-bintik kecil.
  • Luka atau Lecet: Akibat garukan berulang, kulit menjadi lecet, pecah-pecah, bahkan dapat mengeluarkan cairan bening atau nanah jika sudah terinfeksi.
Info Eksim Keterangan
Penyakit Atopik Riwayat Asma, Hay Fever
Gejala Awal Usia 3 sampai 6 Bulan
Faktor Keturunan Sering Berkaitan dengan Riwayat Keluarga
Alergi Makanan Pada Sebagian Kasus, misalnya Susu Sapi/Telur

Cara Mengatasi Eksim pada Bayi

Eksim pada bayi atau dermatitis atopik dapat membuat kulit Si Kecil menjadi kering, merah, dan terasa sangat gatal. Kondisi ini bisa membuat bayi rewel dan sulit tidur, terutama ketika rasa gatal sedang kambuh.

Perlu diketahui, tidak ada obat eksim pada bayi di apotek yang dapat menyembuhkan kondisi ini secara instan. Beberapa obat atau krim memang dapat membantu mengurangi gatal dan peradangan, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit bayi.

Jika bayi membutuhkan obat, dokter akan mempertimbangkan usia, kondisi kulit, serta tingkat keparahan eksim sebelum menentukan jenis perawatan yang tepat. Karena itu, penggunaan salep atau obat eksim pada bayi sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, terutama untuk obat yang mengandung bahan aktif tertentu.

Selain obat, perawatan sehari-hari juga memiliki peran penting. Menjaga kulit tetap lembap, menghindari pemicu iritasi, dan mencegah kulit terluka karena garukan dapat membantu mengurangi keluhan dan menjaga eksim tetap terkendali.

Berikut beberapa cara yang umum dilakukan untuk membantu merawat kulit bayi dengan eksim:

1. Mandi dengan Air Hangat dan Teknik Soak and Seal

Mandi tetap boleh dilakukan pada bayi dengan eksim. Justru, mandi dengan cara yang tepat dapat membantu membersihkan kulit dan memberikan kelembapan. Gunakan air hangat kuku, bukan air panas, dan batasi waktu mandi sekitar 5–10 menit agar kulit tidak semakin kering.

Gunakan pembersih yang lembut dan bebas pewangi (fragrance-free), terutama pada bagian tubuh yang kotor. Hindari sabun yang keras, bubble bath, atau produk yang membuat kulit terasa kesat setelah mandi karena dapat mengiritasi kulit sensitif bayi.

Setelah selesai mandi, jangan menggosok kulit dengan handuk. Tepuk-tepuk perlahan hingga kulit masih sedikit lembap, kemudian segera gunakan pelembap. Langkah ini sering disebut teknik soak and seal, yaitu mempertahankan kelembapan kulit dengan mengoleskan pelembap segera setelah mandi.

2. Gunakan Pelembap Secara Rutin

Menjaga kulit tetap lembap merupakan salah satu bagian penting dalam perawatan eksim. Kulit yang mengalami eksim cenderung lebih mudah kehilangan air sehingga menjadi kering, pecah-pecah, dan terasa gatal. Penggunaan pelembap secara rutin membantu mempertahankan kelembapan sekaligus memperkuat lapisan pelindung kulit.

Untuk bayi dengan eksim, pilih pelembap berbentuk krim atau salep yang lebih tebal dibandingkan losion. Produk yang tanpa pewangi, tanpa pewarna, dan diformulasikan untuk kulit sensitif lebih disarankan. Bahan seperti petroleum jelly juga dapat digunakan sebagai pelembap sederhana, sementara produk dengan kandungan tertentu seperti ceramide dapat membantu mendukung fungsi lapisan pelindung kulit.

Oleskan pelembap segera setelah mandi ketika kulit masih lembap, lalu gunakan kembali ketika kulit mulai terasa atau terlihat kering. Pada banyak anak dengan eksim, pelembap perlu digunakan setidaknya dua kali sehari dan dapat lebih sering sesuai kondisi kulit atau anjuran dokter.

Saat mengoleskan pelembap, lakukan dengan lembut dan hindari menggosok kulit terlalu kuat. Bila ingin mencoba produk baru, perhatikan apakah muncul kemerahan, rasa perih, atau ruam yang semakin parah. Produk yang ternyata memicu iritasi sebaiknya dihentikan dan dikonsultasikan kepada dokter.

3. Penggunaan Salep Eksim pada Bayi dari Dokter

Jika eksim sedang meradang hebat, misalnya kulit sangat merah, bengkak, dan terasa sangat gatal, dokter mungkin meresepkan salep untuk eksim pada bayi yang mengandung kortikosteroid topikal dosis rendah.

Salep ini dapat membantu meredakan peradangan saat eksim kambuh, tetapi tidak menyembuhkan eksim secara instan. Dokter biasanya akan memilih krim kortikosteroid ringan yang sesuai dengan usia dan kondisi kulit bayi.

Sebuah tinjauan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan emolien dan kortikosteroid topikal yang tepat dapat mengurangi keparahan eksim secara signifikan. Oleh karena itu, sebaiknya selalu gunakan salep eksim pada bayi sesuai petunjuk dokter.

4. Krim Non-steroid (Alternatif untuk Jangka Panjang)

Untuk eksim yang sering kambuh, dokter dapat meresepkan krim non-steroid yang juga bisa ditemukan di apotek besar.

5. Kontrol Garukan dan Cegah Infeksi

Rasa gatal yang intens dapat membuat bayi ingin menggaruk. Untuk mencegah kerusakan kulit dan infeksi, pastikan kuku bayi selalu pendek dan bersih.

Anda bisa memakaikan sarung tangan tipis saat tidur. Jika eksim sudah menimbulkan luka atau nanah, segera periksakan ke dokter karena mungkin memerlukan obat eksim pada anak berupa antibiotik.

6. Hindari Pakaian dan Iritan yang Memicu

Pakaikan bayi Anda pakaian berbahan katun yang lembut dan longgar untuk mengurangi gesekan. Hindari pakaian berbahan wol atau sintetis.

Pastikan juga Anda menggunakan deterjen yang hypoallergenic, bebas pewangi, dan bebas pewarna untuk mencuci pakaiannya.

Selain menggunakan obat eksim pada bayi di apotek, perawatan harian juga sangat penting untuk menjaga kesehatan kulit bayi:

  • Gunakan sabun lembut bebas pewangi
  • Mandikan bayi dengan air suam kuku selama maksimal 10 menit
  • Gunakan pakaian berbahan katun lembut dan hindari bahan kasar seperti wol
  • Jaga suhu ruangan tetap sejuk dan udaranya tidak terlalu kering

7. Jaga Suhu Lingkungan Agar Tetap Sejuk

Usahakan suhu ruangan tetap sejuk untuk menghindari keringat berlebih, yang dapat memicu gatal. Gunakan humidifier (pelembap udara) jika Anda berada di ruangan ber-AC atau lingkungan yang udaranya terlalu kering untuk membantu menjaga kelembapan kulit.

Dengan penanganan yang terstruktur, termasuk pelembap yang baik dan obat eksim pada anak yang diresepkan dokter saat kambuh, gejala eksim dapat dikontrol dengan baik, dan bayi Anda bisa lebih nyaman.

Kapan Sebaiknya Membawa Bayi ke Dokter?

Eksim pada bayi umumnya dapat dirawat dengan perawatan kulit yang tepat di rumah. Namun, ada kondisi tertentu yang sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik.

Sebaiknya bawa bayi ke dokter jika mengalami beberapa kondisi berikut:

  • Eksim tidak membaik meskipun sudah dirawat di rumah secara rutin.
  • Kulit mengalami luka terbuka, pecah-pecah, atau mengeluarkan cairan.
  • Bayi terlihat sangat tidak nyaman, terus menggaruk, atau sulit tidur karena rasa gatal.
  • Ruam atau kemerahan pada kulit semakin luas atau semakin parah.
  • Muncul tanda yang mengarah pada infeksi kulit, seperti nanah, pembengkakan, atau keluhan yang semakin memburuk.

Pemeriksaan oleh dokter dapat membantu memastikan apakah kondisi tersebut memang eksim dan menentukan perawatan yang sesuai dengan usia serta kondisi kulit bayi. Penanganan lebih awal juga dapat membantu mencegah masalah kulit berkembang menjadi lebih berat.

Bila eksim sering kambuh, cukup berat, atau sulit dikendalikan dengan perawatan sehari-hari, dokter dapat membantu menentukan langkah penanganan berikutnya sesuai kebutuhan bayi.

Referensi:

  • Cochrane Library. Strategies for Using Topical Corticosteroids in Children and Adults with Eczema.
  • ScienceDirect. Atopic Dermatitis and Food Allergy: More than Sensitization.
Bermanfaat? Bagikan ke orang terdekatmu
FacebookXTelegram
Alfian
PenulisAlfian

Tips sehat, langsung ke emailmu

Ringkasan artikel pilihan dan tips praktis setiap minggu. Gratis, tanpa spam.

Langganan gratis