Ibu & Anak

Anak Susah Makan? Ini Penyebab dan 7 Cara Mengatasinya

Daftar isi
  1. Penyebab Anak Susah Makan
  2. 1. Fase Anoreksia Fisiologis
  3. 2. Terganggu Saat Makan (Distraksi)
  4. 3. Memaksa Anak Makan
  5. 4. Porsi Makan Terlalu Banyak
  6. 5. Terlalu Sering Ngemil dan Minum Susu
  7. Cara Mengatasi Anak Susah Makan
  8. 1. Terapkan Jadwal Makan yang Teratur
  9. 2. Sajikan Porsi Kecil, tetapi Sering
  10. 3. Ajak Anak Terlibat Menyiapkan Makanan
  11. 4. Hindari Distraksi Layar
  12. 5. Jadilah Contoh yang Baik
  13. 6. Variasikan Tekstur dan Bentuk Makanan
  14. 7. Batasi Pemberian Minum di Tengah Makan
  15. Dampak jika Anak Susah Makan
  16. Menu untuk Anak Susah Makan
  17. FAQ
  18. Apa yang harus dilakukan ketika anak susah makan?
  19. Fase anak susah makan umur berapa?
  20. Agar anak nafsu makan harus dikasih apa?
  21. Anak susah makan pertanda apa?
  22. Kapan Harus ke Dokter?

Anak tiba-tiba menutup mulut rapat-rapat saat disuapi, atau yang sering disebut GTM (Gerakan Tutup Mulut), memang bisa menguras tenaga dan kesabaran orang tua. Rasa khawatir dan lelah saat menghadapinya sangat wajar.

Kabar baiknya, anak susah makan adalah fase yang umum terjadi dalam masa tumbuh kembang dan biasanya akan membaik seiring waktu. Meski begitu, kondisi ini tetap perlu ditangani dengan cara yang tepat. Jika dibiarkan, asupan nutrisi anak bisa terganggu sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan perkembangan otaknya.

Yuk, kenali penyebabnya dan cara mengatasinya berikut ini!

Penyebab Anak Susah Makan

Setiap anak punya alasan berbeda saat menolak makan. Dengan mengenali penyebabnya, Anda bisa memilih cara yang lebih tepat dan tidak mudah frustrasi menghadapinya.

1. Fase Anoreksia Fisiologis

Pada usia 1 sampai 5 tahun, kecepatan pertumbuhan anak memang tidak secepat saat masih bayi. Akibatnya, kebutuhan kalorinya pun ikut berkurang. Anak jadi terlihat kurang lapar, porsi makannya menyusut, atau nafsu makannya naik turun.

Kondisi ini dikenal sebagai anoreksia fisiologis. Meski namanya terdengar serius, ini bukan penyakit. Tubuh anak hanya sedang menyesuaikan kebutuhan energinya dengan laju pertumbuhan yang lebih lambat. Selama berat badan dan tinggi badannya tetap naik sesuai kurva pertumbuhan, anak tetap dalam kondisi sehat dan Anda tidak perlu terlalu cemas.

2. Terganggu Saat Makan (Distraksi)

Makan sambil menonton video, bermain gadget, menyalakan televisi, atau bermain mainan bisa membuat perhatian anak teralihkan dari makanannya. Anak jadi kurang peka terhadap rasa lapar dan kenyang, serta kurang menikmati rasa dan tekstur makanan.

Dampaknya, makanan sering hanya ditahan di mulut, makan berlangsung sangat lama, atau anak menolak menghabiskan porsinya. Kebiasaan ini juga bisa membuat anak hanya mau makan jika ada tayangan tertentu, sehingga sulit dilepaskan di kemudian hari.

3. Memaksa Anak Makan

Membujuk anak dengan cara memaksa, misalnya menyuapi saat mulutnya terkatup, mengancam, atau mengharuskan piring bersih, justru bisa berdampak sebaliknya. Anak jadi mengaitkan waktu makan dengan perasaan tidak nyaman, takut, atau tertekan.

Tekanan ini memicu rasa cemas yang bisa membuat nafsu makan anak makin menurun. Anak pun cenderung makin sering menolak makan, bahkan sebelum makanan sampai di meja. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat anak menghindari waktu makan dalam jangka panjang.

4. Porsi Makan Terlalu Banyak

Porsi yang terlihat wajar bagi orang dewasa bisa tampak sangat banyak bagi anak. Piring yang penuh sering membuat anak merasa kewalahan dan enggan mencoba, bahkan sebelum suapan pertama.

Perlu diingat, ukuran lambung anak masih kecil sehingga daya tampungnya terbatas. Porsi yang sesuai dengan usianya akan lebih mudah dihabiskan dan membuat anak lebih percaya diri saat makan.

5. Terlalu Sering Ngemil dan Minum Susu

Camilan dan susu yang diberikan terlalu banyak, terutama di sela jam makan utama, bisa membuat anak kenyang lebih lama. Saat waktu makan tiba, perutnya sudah terisi sehingga ia menolak makanan yang disajikan.

Selain itu, camilan manis dan susu yang berlebihan umumnya kurang padat gizi dibanding makanan utama. Anak mungkin terlihat kenyang, tetapi kebutuhan nutrisinya belum tentu tercukupi. Karena itu, atur jarak waktu yang cukup antara camilan, susu, dan makan utama agar anak sempat merasa lapar.

Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Mengubah kebiasaan makan anak tidak bisa instan. Dibutuhkan kesabaran dan konsistensi setiap hari. Berikut beberapa cara yang bisa Anda coba untuk membuat suasana makan lebih menyenangkan:

1. Terapkan Jadwal Makan yang Teratur

Atur jam makan utama dan camilan secara konsisten setiap hari, misalnya tiga kali makan besar dan dua kali camilan. Jadwal yang teratur membantu tubuh anak mengenali kapan waktunya lapar, sehingga ia lebih siap makan saat waktunya tiba.

Batasi waktu makan sekitar 30 menit. Jika anak mulai menolak, mengemut makanan, atau sibuk bermain, akhiri sesi makan dengan tenang tanpa marah atau membujuk berlebihan. Tawarkan makanan lagi pada jadwal berikutnya. Jangan memberi camilan atau susu tambahan di luar jadwal hanya karena anak tidak menghabiskan makannya.

2. Sajikan Porsi Kecil, tetapi Sering

Mulailah dengan porsi kecil yang tampak mudah dihabiskan. Saat piringnya bersih, anak akan merasa berhasil dan lebih percaya diri untuk makan di waktu berikutnya.

Jika anak masih lapar, tawarkan tambahan. Cara ini terasa lebih ringan bagi anak dibanding langsung diberi piring penuh. Pilih juga makanan yang padat gizi, seperti telur, ikan, daging, tahu, atau tempe, agar porsi kecil tetap mencukupi kebutuhan nutrisinya.

3. Ajak Anak Terlibat Menyiapkan Makanan

Anak biasanya lebih tertarik pada makanan yang ikut ia siapkan sendiri. Ajak ia memilih sayur atau buah di pasar, mencuci bahan makanan, mengaduk adonan, atau menata makanan di piring, sesuai kemampuan dan usianya.

Kegiatan ini membuat anak merasa dilibatkan dan lebih penasaran dengan hasil masakannya. Ia pun lebih terbuka mencoba makanan baru, termasuk sayuran yang sebelumnya ditolak. Pastikan tetap mengawasi, terutama saat menggunakan pisau, kompor, atau air panas.

4. Hindari Distraksi Layar

Ciptakan zona bebas gadget dan televisi saat berada di meja makan agar fokus anak sepenuhnya tertuju pada makanan.

Interaksi sosial dengan anggota keluarga lain saat makan jauh lebih efektif dalam merangsang minat makan anak dibandingkan menonton kartun.

5. Jadilah Contoh yang Baik

Anak adalah peniru ulung, sehingga mereka akan lebih cenderung mencoba sayuran jika melihat orang tuanya menikmati makanan yang sama.

Tunjukkan ekspresi positif saat Anda makan, karena sikap Anda sangat memengaruhi persepsi anak terhadap rasa makanan tersebut.

6. Variasikan Tekstur dan Bentuk Makanan

Jangan ragu untuk bereksperimen dengan teknik memasak yang berbeda, misalnya mengubah brokoli rebus menjadi kroket sayuran yang renyah.

Bentuk makanan yang lucu (seperti bento) atau warna yang kontras dapat menarik perhatian visual anak dan memancing rasa ingin tahu mereka.

7. Batasi Pemberian Minum di Tengah Makan

Minum terlalu banyak air atau susu di sela-sela suapan dapat membuat perut anak cepat penuh oleh cairan.

Berikan air minum secukupnya hanya di akhir waktu makan agar kapasitas lambung anak benar-benar terisi oleh nutrisi dari makanan padat.

Baca Juga: Hernia pada Anak: Ciri-Ciri, Penyebab & Pengobatannya

Dampak jika Anak Susah Makan

Jika kebiasaan susah makan dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan, hal ini dapat berdampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan anak.

Dampak ini tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga perkembangan jangka panjangnya, seperti:

  • Gangguan Pertumbuhan Fisik: Kekurangan asupan kalori dan nutrisi kronis berisiko menyebabkan berat badan rendah hingga kondisi stunting (tubuh pendek).
  • Penurunan Sistem Imunitas: Tanpa asupan vitamin dan mineral yang cukup, daya tahan tubuh anak melemah sehingga mereka menjadi lebih sering jatuh sakit.
  • Hambatan Perkembangan Kognitif: Otak membutuhkan energi yang besar untuk berkembang; kekurangan nutrisi dapat mengganggu kemampuan konsentrasi dan belajar anak.
  • Defisiensi Nutrisi Spesifik: Anak yang pilih-pilih makan berisiko tinggi mengalami anemia akibat kurang zat besi atau gangguan penglihatan akibat kurang vitamin A.

Baca Juga: Eksim pada Bayi: Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

Menyajikan menu yang variatif namun tetap bergizi adalah kunci utama dalam menghadapi fase GTM. Fokuslah pada makanan yang padat nutrisi meskipun dalam volume yang kecil.

Beberapa menu yang bisa Anda coba yaitu:

  1. Nugget Ayam Sayur Homemade: Campuran dada ayam giling dengan parutan halus wortel dan brokoli. Menu ini menyamarkan rasa sayur dalam bentuk nugget renyah yang disukai anak-anak.
  2. Pasta Saus Labu Kuning: Pasta berbentuk lucu (seperti makaroni atau fusilli) dengan saus dari puree labu kuning, susu, dan keju. Teksturnya lembut dan rasanya manis gurih alami.
  3. Nasi Bola Isi Telur Puyuh: Nasi yang dicampur sedikit minyak wijen dan rumput laut bubuk, dibentuk bulat dengan kejutan telur puyuh di dalamnya. Ukurannya pas untuk digenggam.
  4. Mini Egg Muffins: Telur kocok yang dipanggang di cetakan cupcake bersama potongan sosis dan bayam. Bentuknya yang mungil membuat anak tidak merasa terintimidasi oleh porsi besar.
  5. Smoothie Alpukat Cokelat: Pilihan tepat jika anak menolak nasi. Campuran alpukat, pisang, dan sedikit bubuk cokelat murni memberikan asupan lemak sehat dan kalori yang tinggi.
  6. Sate Buah Pelangi: Potongan buah warna-warni seperti semangka, melon, dan anggur yang ditusuk. Tampilan visual yang ceria sering kali memancing rasa ingin tahu anak untuk mencoba.
  7. Pancake Pisang Oat: Terbuat dari pisang matang, telur, dan gandum halus (oat). Menu ini kaya serat dan energi, sangat cocok untuk sarapan tanpa perlu banyak mengunyah.
  8. Sup Bakso Ayam Wortel: Kuah bening yang segar dengan bakso ayam buatan sendiri. Tekstur kuah yang hangat dapat membantu merangsang tenggorokan jika anak sedang tidak nafsu makan karena kurang enak badan.
  9. Pizza Roti Gandum: Menggunakan roti tawar gandum sebagai dasar, diberi saus tomat, potongan daging, dan keju mozzarella. Menu ini efektif karena anak merasa sedang makan camilan padahal mengandung gizi lengkap.
  10. Perkedel Kentang Daging Cincang: Kentang halus yang dicampur dengan daging sapi cincang. Teksturnya yang sangat lembut sangat memudahkan anak yang sering malas mengunyah makanan yang keras.

FAQ

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang umum muncul dari para orang tua saat menghadapi anak yang sulit makan:

Apa yang harus dilakukan ketika anak susah makan?

Tetap tenang dan hindari memaksa anak makan. Terapkan jadwal makan yang konsisten dan batasi waktu makan maksimal 30 menit tanpa gangguan gadget atau mainan. Jika anak menolak, coba tawarkan kembali makanan dalam porsi kecil tetapi padat gizi secara berkala.

Fase anak susah makan umur berapa?

Fase susah makan biasanya memuncak pada usia 1 hingga 3 tahun (toddler) saat anak mulai mengeksplorasi kemandirian. Pada masa ini, laju pertumbuhan sedikit melambat sehingga nafsu makan mereka secara alami tampak menurun.

Anak juga cenderung menjadi picky eater karena mulai selektif terhadap rasa dan tekstur makanan baru.

Agar anak nafsu makan harus dikasih apa?

Sajikan menu dengan tampilan menarik dan porsi kecil yang tidak membuat anak merasa terintimidasi. Pastikan konsultasi dengan dokter spesialis anak sebelum memberikan suplemen penambah nafsu makan tambahan.

Anak susah makan pertanda apa?

Kondisi ini bisa menjadi tanda anak sedang bosan dengan menu yang ada atau sedang menunjukkan fase kemandirian. Selain itu, susah makan juga sering menjadi gejala fisik seperti tumbuh gigi, sariawan, atau pertanda awal gangguan kesehatan seperti demam.

Kapan Harus ke Dokter?

Anak susah makan umumnya bukan kondisi yang berbahaya. Namun, orang tua perlu waspada dan segera membawa anak ke dokter jika muncul tanda-tanda berikut:

  • Demam di atas 38°C disertai anak menolak makan dan minum sama sekali
  • Berat badan anak tidak naik atau justru turun selama beberapa bulan
  • Anak tampak lemas, pucat, atau kurang aktif dibanding biasanya
  • Susah makan berlangsung lebih dari 1 bulan tanpa ada perbaikan
  • Anak sering tersedak, muntah, atau tampak kesakitan saat makan
  • Muncul tanda dehidrasi, seperti jarang buang air kecil, bibir kering, atau menangis tanpa air mata

Jangan menunggu sampai kondisi anak memburuk. Pemeriksaan dokter anak dapat membantu mencari tahu penyebab pastinya, memantau tumbuh kembang anak, dan menentukan penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Sumber/Referensi:

Bermanfaat? Bagikan ke orang terdekatmu
FacebookXTelegram
Alfian
PenulisAlfian

Tips sehat, langsung ke emailmu

Ringkasan artikel pilihan dan tips praktis setiap minggu. Gratis, tanpa spam.

Langganan gratis